Detik Sumba – Upaya memenuhi kebutuhan gizi anak stunting dan ibu hamil di Desa Pahola, Kecamatan Wanukaka, Kabupaten Sumba Barat, dilakukan melalui kolaborasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gerakan NTT Sehat, Kuat dan Inklusif (Gentaskin) bersama kader Posyandu.

Pembagian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) itu berlangsung selama dua hari, 20–21 Agustus 2026. Sebanyak 13 rumah menjadi sasaran dalam kegiatan tersebut.

Mahasiswa KKN Gentaskin yang terlibat berasal dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Katolik (Unika) Weetebula, Universitas Kristen Wirawacana (Unkriswina) Sumba, Akademi Keperawatan (Akper) Waikabubak, dan Poltekkes Bakti Sumba.

Mereka bersama kader Posyandu mendatangi rumah-rumah warga yang menjadi sasaran. Selain menyerahkan makanan, mahasiswa juga berdialog dengan keluarga penerima mengenai pentingnya pemenuhan gizi, terutama bagi anak yang mengalami stunting dan ibu selama masa kehamilan.

PMT yang diberikan disiapkan dengan memanfaatkan dukungan dana dari LLDIKTI. Bahan makanan yang digunakan antara lain beras, ayam, tahu, wortel, sayuran, dan buah-buahan.

Menu yang disajikan terdiri dari nasi putih, ayam tepung, nugget tahu dan wortel, sayur tumis, serta pisang mas.

Mahasiswa Poltekkes Bakti Sumba, Vikto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk hadir secara langsung di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin ikut mengambil bagian dalam membantu memenuhi kebutuhan gizi anak stunting dan ibu hamil. Kami tidak hanya datang untuk membagikan makanan, tetapi juga ingin membangun komunikasi dengan keluarga agar mereka semakin memahami pentingnya gizi dalam mendukung pertumbuhan anak dan kesehatan ibu hamil,” kata Vikto.

Menurut Vikto, persoalan stunting membutuhkan perhatian dan keterlibatan dari berbagai pihak. Mahasiswa dan kader Posyandu, kata dia, memiliki peran untuk membantu masyarakat memahami pentingnya pemenuhan gizi dalam keluarga.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada pembagian PMT saja, tetapi bisa menjadi bagian dari gerakan bersama masyarakat untuk terus memperhatikan kesehatan dan pemenuhan gizi keluarga,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa upaya menangani stunting tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.

Keluarga, kader Posyandu, pemerintah desa, perguruan tinggi, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memastikan anak dan ibu hamil mendapatkan perhatian yang memadai.

Bagi mahasiswa KKN Gentaskin, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses belajar bersama masyarakat.

Mereka tidak hanya membawa pengetahuan dari perguruan tinggi, tetapi juga belajar memahami kondisi keluarga dan persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat secara langsung.

Melalui kegiatan sederhana seperti pembagian PMT dan komunikasi dengan keluarga, mahasiswa berharap kesadaran mengenai pentingnya gizi dapat terus tumbuh di Desa Pahola.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk mencegah stunting sekaligus mendukung kesehatan ibu dan anak.***