DETIK SUMBA – Kondisi infrastruktur di lingkar utama pariwisata internasional Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memicu gejolak dan sorotan tajam. Kerusakan parah yang terus berulang di ruas jalan Dira Tana, Dusun 5, Desa Tebara, kini menyulut amarah warga yang bosan dengan pola perbaikan setengah hati dari pemerintah daerah.

Akses jalan ini bukan sekadar jalur penghubung antardesa biasa. Ruas strategis ini merupakan urat nadi transportasi massal dari wilayah Wanukaka, Lamboya, hingga Gaura menuju Kota Waikabubak. Lebih ironis lagi, jalur yang compang-camping mirip kubangan ini adalah rute utama para wisatawan asing menuju kawasan pantai selatan Sumba Barat termasuk menuju Hotel Nihiwatu, salah satu akomodasi wisata terkaya dan ternama di dunia yang menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) fantastis.

Kesabaran warga akhirnya habis. Jewu Beko, salah seorang warga setempat, secara vokal melayangkan protes keras kepada pemerintah. Ia menilai metode perbaikan jalan yang dilakukan selama ini sama sekali tidak menyentuh akar masalah karena hanya mengandalkan urukan tanah seadanya.

“Kami tidak ingin jalan ini terus-menerus rusak dan hanya ditimbun setiap kali mengalami kerusakan. Pemerintah perlu melihat kondisi jalan ini secara langsung dan mencari solusi yang lebih permanen,” kata Jewu Beko dengan nada tegas.

Menurut Jewu, pembiaran dan lambatnya penanganan permanen pada struktur tanah yang labil ini telah mengubah jalur pariwisata tersebut menjadi ancaman nyata bagi keselamatan nyawa masyarakat. Banyak pengendara yang menjadi korban akibat terjebak di lubang patahan jalan yang curam.

“Memang sejauh ini belum ada korban jiwa, tetapi sudah ada pengendara yang jatuh dan mengalami luka-luka akibat kondisi jalan ini,” ujarnya.

Fakta di lapangan mengungkap bahwa proyek pengaspalan sebenarnya pernah menyentuh jalan ini. Namun, buruknya perencanaan teknis tanpa melihat kontur tanah membuat aspal tersebut hancur seketika saat musim penghujan tiba. Proyek tambal sulam yang dilakukan instansi terkait dituding hanya membuang-buang anggaran daerah secara sia-sia.

“Jalan ini sudah beberapa kali diperbaiki dan ditimbun, tetapi kerusakannya terus berulang. Baru diperbaiki, kemudian ketika hujan dan kondisi tanah turun, jalan kembali patah dan berlubang,” katanya.

Masyarakat mendesak agar Dinas Pekerjaan Umum (PU) tidak lagi menutup mata dan segera menerapkan metode konstruksi modern (seperti pengecoran beton/konstruksi cakar ayam) yang mampu menahan pergeseran tanah di lokasi.

“Kalau hanya terus ditimbun dengan tanah, saya rasa masalahnya tidak akan selesai karena tanah di lokasi ini terus turun. Pemerintah perlu mencari solusi lain yang lebih kuat dan permanen,” pungkasnya