Detik Sumba – Topeng oknum guru honorer di salah satu SD Katolik di Kecamatan Kota Waikabubak akhirnya runtuh sepenuhnya. Sebuah skandal peca**lan massal yang sangat be*ad kini meledak dan mengguncang publik Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menggunakan modus tipu daya “les tambahan” setelah jam sekolah, aksi pelecehan pelaku kini resmi dibongkar total oleh pihak kepolisian.
Kapolres Sumba Barat, AKBP Yohanis Nisa Pewali, S.S., mengonfirmasi langsung kebenaran kasus sek**al yang mencoreng institusi pendidikan ini. Pihak kepolisian bergerak cepat pasca menerima laporan resmi dari orang tua murid yang terkejut mendengar pengakuan pilu anak mereka tepat pada momen perayaan kemerdekaan, 17 Agustus 2026 lalu.
“Ya benar terjadi peca**lan,” tegas Kapolres AKBP Yohanis Nisa Pewali melalui pesan singkat, Jumat (4/9/2026). Tanpa kompromi, aparat kepolisian langsung meringkus dan menjebloskan oknum guru predator tersebut ke dalam sel tahanan demi mempertanggungjawabkan perbuatan be**ad miliknya.
“Yang bersangkutan sudah dimintai keterangan. Saat ini kami masih periksa saksi-saksi. Pelaku sudah ditahan,” tambahnya.
Aksi be**d ini menyisakan trauma mendalam dan pukulan telak bagi pihak sekolah. Kepala SD Katolik Waikabubak, Yulita Watil, mengungkapkan rasa sesal yang mendalam atas tragedi sekal yang menimpa anak didiknya.
“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Saya sendiri merasa beban moril,” ujar Yulita dengan nada terpukul, Jumat (4/9/2026) malam.
Fakta mengejutkan terungkap bahwa pelaku dengan cerdik memanfaatkan kepercayaan orang tua murid. Tindakan keji itu dilancarkan di luar jam pelajaran reguler, dalam sebuah agenda kelas tambahan tersembunyi yang disepakati langsung antara pelaku dan orang tua. “Setelah jam sekolah. Les tambahan atas kesepakatan pelaku dengan orang tua,” beber Yulita.
Lebih membuat merinding, data dari hasil pemeriksaan psikolog menunjukkan angka korban yang terus membludak. Jika sebelumnya tercatat belasan, laporan terbaru dari tim psikolog memastikan bahwa jumlah anak yang diduga menjadi korban keganasan pelaku kini telah menyentuh angka 14 anak.
Saat ini, ke-14 anak yang mengalami trauma hebat tersebut tengah mendapatkan pendampingan psikologis intensif dari Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kabupaten Sumba Barat. Sementara itu, gelombang tuntutan dari masyarakat terus mengalir agar pelaku pecalan ini dihukum seberat-beratnya tanpa ampun.***

Tinggalkan Balasan