Detik Sumba – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kupang melakukan audiensi dengan Universitas Muhammadiyah Kupang untuk membahas kondisi mahasiswa yang terdampak bencana gempa bumi di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Audiensi tersebut dihadiri Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ir. Syamsul Bahri, M.M., UM., Ketua DPC GMNI Kupang Jacson Marcus, serta jajaran pengurus GMNI Kupang.
Dalam pertemuan itu, GMNI menyampaikan aspirasi terkait keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak gempa. GMNI menilai bencana tidak hanya berdampak pada tempat tinggal dan kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga berpotensi mengganggu kemampuan mahasiswa memenuhi biaya pendidikan.
Karena itu, GMNI mendorong kampus mempertimbangkan kondisi mahasiswa dan keluarga terdampak dalam menentukan kebijakan akademik maupun pembiayaan pendidikan.
Kebijakan tersebut dinilai penting agar mahasiswa tetap dapat melanjutkan perkuliahan tanpa menanggung beban yang semakin berat akibat bencana.
Pihak Universitas Muhammadiyah Kupang menyampaikan bahwa upaya kemanusiaan telah dilakukan melalui penyaluran bantuan dan pengiriman tim relawan ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Nagekeo dan Manggarai Timur.
Selain bantuan kemanusiaan, audiensi juga membahas langkah kampus dalam menjamin keberlanjutan perkuliahan mahasiswa terdampak. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ir. Syamsul Bahri, mengatakan pihak rektorat akan melakukan koordinasi untuk membahas langkah dan kebijakan yang dapat diberikan.
Ketua DPC GMNI Kupang, Jacson Marcus, menegaskan kampus perlu menunjukkan keberpihakan kepada mahasiswa yang terdampak bencana.
“Kami berharap pihak universitas dapat mengambil kebijakan yang berperikemanusiaan dan memberikan ruang bagi mahasiswa terdampak untuk tetap melanjutkan pendidikan tanpa terbebani oleh situasi yang sedang mereka hadapi. Bencana bukan hanya persoalan kehilangan tempat tinggal, tetapi juga menyangkut keberlangsungan masa depan generasi muda,” ujar Jacson.
GMNI Kupang juga telah menyurati sejumlah perguruan tinggi di Kota Kupang untuk meminta perhatian terhadap kondisi mahasiswa terdampak gempa.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong kampus melakukan pendataan sekaligus menyiapkan kebijakan yang sesuai dengan kondisi mahasiswa.
Hingga kini, GMNI Kupang menghimpun data sementara sekitar 400 mahasiswa di Kota Kupang yang terdampak gempa. Data tersebut dikumpulkan melalui Google Form dan masih terus diperbarui melalui pendataan di lapangan.
GMNI berharap pendataan tersebut dapat menjadi dasar dalam menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada perguruan tinggi dan pemangku kepentingan.
Menurut GMNI, mahasiswa terdampak membutuhkan kebijakan yang konkret, adil, dan berorientasi pada kemanusiaan agar bencana tidak memutus keberlanjutan pendidikan mereka.***

Tinggalkan Balasan