Detik Sumba – Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menyoroti perkembangan sektor pendidikan dan kebudayaan dalam momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonnu Wulla menyebut angka anak tidak sekolah di daerah itu menunjukkan penurunan signifikan sepanjang 2026.
Hal tersebut disampaikan Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla dalam sambutannya pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Galatama, Kabupaten Sumba Barat Daya, Senin (17/8/2026).
Menurut Bupati, jumlah anak tidak sekolah berhasil ditekan dari 14.576 anak pada 2025 menjadi 11.766 anak per Juli 2026. Artinya, terdapat penurunan sekitar 2.810 anak atau 19,8 persen.
“Capaian di bidang pendidikan dan kebudayaan menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Angka anak tidak sekolah berhasil kita tekan 19,8% dari angka 14.576 anak pada 2025 menjadi 11.766 anak per Juli 2026,” ujar Ratu dalam sambutannya.
Tak hanya menekan angka anak tidak sekolah, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya juga memperkuat akses pendidikan melalui berbagai program bantuan.
Bupati menyampaikan, lebih dari 40.000 siswa telah mendapatkan dukungan melalui program Indonesia Pintar dengan alokasi anggaran yang mendekati Rp20 miliar.
Sementara itu, pemerintah daerah juga mengucurkan lebih dari Rp67 miliar untuk perbaikan sarana dan prasarana pendidikan di 81 sekolah yang tersebar di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Di sisi peningkatan kualitas tenaga pendidik, sebanyak 128 guru telah mengikuti bimbingan teknis literasi dan numerasi. Selain itu, 164 guru difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1.
Pemerintah daerah juga memperketat kedisiplinan tenaga pendidik melalui penerapan sistem absensi digital yang disebut Siangle.
Ia juga menyampaikan adanya komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program beasiswa daerah.
Menurutnya pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya setiap tahun mengalokasikan anggaran beasiswa bagi anak-anak berprestasi maupun mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Program tersebut mencakup kerja sama beasiswa dengan Universitas Atma Jaya, beasiswa kedokteran bagi 35 orang, beasiswa berprestasi bagi 745 orang, serta beasiswa bagi 56 ASN dan non-ASN untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktoral.
Bupati bahkan memasang target besar selama masa pemerintahannya.Dalam satu periode pemerintahan, Pemkab SBD menargetkan mencetak 100 orang bergelar magister dan 10 orang doktor.
“Akses kami berikan seluas-luasnya bagi putra-putri daerah Sumba Barat Daya,” tegasnya.
Pada 2026, program beasiswa tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah penerima mencapai 990 orang dengan total alokasi anggaran sebesar Rp5,132 miliar.
Hingga saat ini, dana sebesar Rp2,197 miliar telah disalurkan kepada 448 mahasiswa. Sementara sisa anggaran akan dicairkan secara bertahap setelah penerima memenuhi kelengkapan administrasi.
Selain memperluas akses pendidikan, Pemkab SBD juga berupaya membangun budaya literasi masyarakat.
Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, pemerintah menargetkan indeks pembangunan literasi masyarakat dapat melampaui 65 persen.
Sejumlah strategi disiapkan, mulai dari penyediaan bahan bacaan berkualitas, kampanye gemar membaca, penguatan perpustakaan, integrasi budaya membaca dalam kehidupan sehari-hari hingga pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan minat baca generasi muda.
Bupati menegaskan, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.
Dibutuhkan keterlibatan orang tua, guru, tokoh masyarakat, dunia usaha, serta seluruh elemen masyarakat agar setiap anak di Sumba Barat Daya mendapatkan kesempatan belajar yang layak.
Menurutnya, investasi terbesar bagi masa depan daerah bukan hanya pembangunan infrastruktur, tetapi juga menciptakan generasi yang cerdas, berkarakter, berdaya saing dan mampu menjadi penggerak pembangunan.
Komitmen tersebut diarahkan untuk mempersiapkan generasi Sumba Barat Daya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.***

Tinggalkan Balasan