DETIK SUMBA – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh video permohonan maaf terbuka dari seorang anggota Polri.

Langkah ini diambil setelah status Facebook miliknya menuai pro dan kontra yang sangat tajam di kalangan warganet, menyusul situasi panas yang tengah melanda wilayah hukum Polres Sumba Barat.

Pemicunya adalah sebuah kalimat singkat namun dinilai keras yang diunggah oleh sang polisi: “Jangan jadi pencuri jika tidak mau menanggung risiko.”

Unggahan tersebut ironisnya beredar bertepatan dengan momen sensitif, yakni insiden penembakan seorang pria terduga pelaku pencurian ternak (curnak) asal Bali Ledo, Kecamatan Loli, yang memicu aksi demonstrasi hingga berujung kericuhan di sekitar Mapolres Sumba Barat .

Sadar unggahannya memicu kegaduhan, postingan tersebut langsung dihapus (take down) sebelum ia menyampaikan penyesalannya ke publik.

Bagi sebagian warganet, pernyataan tersebut dinilai terlalu menyudutkan di tengah suasana duka keluarga korban. Namun, sebagian lainnya melihat kalimat itu sebagai pengingat logis mengenai konsekuensi hukum dari tindakan kriminal.

Sadar akan dampak psikologis yang ditimbulkan di ruang publik, anggota Polri ini menunjukkan sikap bertanggung jawab dengan mengakui adanya potensi kesalahpahaman serta menegaskan tidak ada niat sedikit pun untuk merendahkan atau menyakiti perasaan pihak mana pun.

Melalui video resmi yang diunggah di akun pribadinya pada Kamis, 17 September 2026, ia secara jantan mengakui kekhilafannya di hadapan publik

“Shalom, salam presisi, saya Bharada Frediangki Deta, anggota Kepolisian Korps Sabhara Baharkam Polri, selaku pemilik postingan difacebook yang telah meresahkan masyarakat dan warganet, memngaku salah atas postingan tersebut. Saya juga menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas postingan yang saya buat. Semoga ini menjadi pembelajaran untuk saya kedepannya. Demikian permohonan maaf saya,” ungkap Frediangki.

Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak, terutama aparat penegak hukum, untuk lebih bijak dan hati-hati dalam bermedia sosial.

Sikap ksatria yang ditunjukkan Bharada Frediangki diharapkan mampu mendinginkan tensi dan meredam polemik digital, sekaligus mengembalikan fokus publik pada penyelesaian damai atas konflik yang sedang terjadi di Sumba Barat***