Detik Sumba -Indonesia saat ini sedang didominasi oleh manusia-manusia yang menganggap masyarakat sebagai hewan, alat kerja, mesin, kelinci percobaan, dan komuditi. Nampaknya manusia-manusia itu menganggap rakyat sebagai orang yang tidak perlu bersuara dan cukup dengan tunduk atau mendengarkan arahan. Mungkin mereka menempatkan rakyat lebih dari hewan karena hewan masih bisa bersuara untuk menolak rasa sakit yang menimpa dirinya bila sedang mengalami tekanan. Rakyat dibungkam total dan bahkan nyawanya direnggut bila ada yang memilih untuk bersuara.
Selain suara yang dibungkam (korban mau bersuara, tetapi diteror atau diintimidasi, bahkan nyawa jadi taruhan), aspek lain yang menjadi ancaman rakyat adalah identitas sebagai alat kerja atau mesin pabrik bagi para kaum kapitalis (dan bahkan sedang berlangsung saat ini). Realitas mempertontonkan bahwa rakyat kerja demi bertahan hidup dan bukan untuk menempu hidup yang lebih membahagiakan, yang mensejaterakan mereka, dan potensi untuk mendapatkan hidup yang berciri keadilan.
Lebih mirisnya lagi adalah rakyat dipandang sebagai kelinci percobaan (lahan adat mereka direbut) atau bahan komuditi (perdangan manusia) bagi mereka yang memiliki kepentingan. Mereka hanya menjalankan apa yang menjadi cita-cita mereka. Namun, mereka lupa untuk mempertimbangkan efek jangka pendek dan jangka panjang dari cita-cita mereka.
Contoh-contoh kasus yang memperlihatkan realitas kerja mereka yang berkepentingan bisa dilihat dalam berbagai bentuk: seperti gaji guru honor yang hanya diberi 300 ribu per bulan, kasus pelecehan seksual yang marak terjadi (yang mana pelakunya adalah tokoh-tokoh agama dan pihak keamanan), dan kasus perdangan manusia yang masih berlangsung sampai saat ini. Rakyat sebagai kelinci percobaan, bisa dilihat melalui lensa perebuatan tanah adat di berbagai tempat di Indonesia (Papua, Kalimatan, NTT, dll).
Tanah mereka dirampas paksa dan dijadikan lahan untuk tanaman-tanaman yang dibungkus dengan opini ‘lumbung pangan’, ‘demi kesejahteraan rakyat’, dan ‘demi rakyat yang tidak kekuarangan gizi’. Ketika tanah mereka dijadikan kelinci percobaan (kelinci percobaan karena tidak menghasilkan apa-apa dan proyek berujung pada kegagalan), maka perlahan-lahan manusiannya ikut menjadi bagian dari percobaan penderitaan yang akan diwariskan di setiap keturunan mereka.
Mengapa demikian? Karena setiap cita-cita yang direncanakan oleh mereka yang berkepentingan justru menemukan realitas gagal total. Ketika realitas mempersembahkan kegagalan, maka mesti dipahami bahwa sudah ada sesuatu yang hilang sebagai akibat dari cita-cita yang gagal, yakni lumbung pangan masyarakat adat dari tanah itu sudah lenyap ditelan keegoisan kaum oligarki (contoh konkret Papua dan Kalimatan yang kehilangan hutan).
Dari semua realitas itu adalah sebuah potret yang memperlihat rakyat yang dilihat oleh para kaum elit sebagai manusia yang tidak perlu diberi nilai (hidup, keadilan, kebebasan bersuara, kesejahteraan, aspirasi, hidup bahagia, dan lain-lain). Dengan demikian, rakyat bukan identitas kosong, tetapi sebuah identitas yang mana di dalamnya semua nilai yang ada pada kaum oligarki dan para penguasa juga didemukan.
Jika mereka yang memiliki akses untuk memiliki fasilitas negara mengintimidasi sekaligus merendahkan nilai-nilai kemanusiaan rakyat, maka rakyat pun berhak melakukan perlawanan dengan sisah tenaga yang mereka miliki, yakni bahasa simbolik (hewan atau binatang yang biadab) yang diarakan kepada mereka yang sedang berkuasa.
Tikus Berdasi
Tikus adalah hewan yang selalu menjadi hama bagi manusia karena dapat merusak perabot rumah tangga, infrastruktur bangunan rumah dari manusia, dan yang lebih memprihatinkan tikus bisa mencuri persediaan makanan yang disimpan oleh manusia. Di Indonesia, tikus kemudian dijadikan sebagai simbol perlawanan terhadap penguasa yang seringkali bertindak semena-mena terhadap rakyatnya.
Para penguasa mencuri apa yang mestinya bukan hak mereka. Di mata rakyat mereka dilihat sebagai perusak rumah tangga (negara), perusak infrastruktur negara, dan pencuri lumbung pangan rakyat. Bahkan bukan hanya isi lumbung pangannya saja yang dicuri, tetapi tempat penyimpanan lumbung pangan rakyat pun dicuri (pengambilan tanah adat di berbagai tempat di Indonesia).
Ketika rakyat mau berteriak maling, mereka hampir tidak memiliki ruang untuk menyampaikan suara itu. Syukur kalau mereka masih bisa bersuara sebelum nyawa mereka menjadi ancaman sebelum bersuara. Rakyat menganggap penguasanya sebagai tikus berdasi, karena berangkat dari tindakan mereka sendiri yang mengadopsi cara tikus bertindak; korupsi, perusak tatanan negara (hukum dan tata kelolah ruang), perusak martabat manusia sebagai aset negara yang paling bernilai dari seluruh ciptaan yang ada. Mungkin saja mereka tidak lagi memiliki urat kemanusiaan (yang ada rasa malunya dan yang kepekaan pada krisis sesama manusianya), melainkan sudah berurat tikus raksasa yang paling rakus dan tidak pernah puas di negeri ini.
Pesta Babi atau Lukisan Celeng
Babi atau celeng dalam bahasa Jawa memiliki makna, selain arti biologis, sebagai hewan yang serahkan (perusak tanaman di kebun) dan menakutkan di mata sebagian manusia. Sindhunata menjelaskan, sebagaimana yang dikutip oleh Bismoko Mahamboro dalam sebuah opini Kompas yang terbit 13 Februari 2024, tentang makna patung yang memikul Celeng karya Djoko Pekik di taman Yakopan Omah Petroek, Pakem, Sleman, DIY Yogyakarta.
Dalam tulisannya Sindhunata menjelaskan bahwa patung celeng berangkat dari situasi politik tahun 1996 yang kemudian diikuti dengan peristiwa berdarah akibat penyerangan kantor pusat Partai Demokrat Indonesia pada 27 Juli 1996. Menurutnya, patung itu menggambarkan seorang penguasa yang serahkah dan mati-matian mempertahan kekuasaannya tanpa memberikan ruang dialog untuk rakyatnya.
Saat itu, muncul frasa baru dalam bentuk sebuah film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono dengan judul “Pesta Babi”. Film ini mengalami kontroversi dari pihak aparat karena melalui film ini realitas yang terjadi di Papua dipertontonkan di seluruh rakyat Indonesia dan oleh aparat dianggap sebagai penghasut. Yang terjadi di Papua adalah tanah adat orang Papua direbut oleh pemerintah, aspirasi mereka yang dibungkam dengan kekuatan militer, dan krisis ekonomi sebagai danpak ekologis yang menimpah mereka.
Realitas teman-teman Papua sangat memprihatinkan dan mereka terus mengalaminya sampai saat ini. Judul film pesta babi bukan pertama-tama berbicara tentang pesta makan daging babi, tetapi para oligarkilah yang dilukiskan sebagai babi-babi yang berpesta di negeri ini.
Berangkat dari realitas dan penggunaan simbol sebagai senjata terakhir yang dimiliki oleh rakyat dan sebagai bentuk perlawanan, maka berikut ini adalah poin-poin yang bisa dilihat sebagai refleksi kritis dalam melihat Indonesia saat ini, yakni penggambaran manusia sebagai manusia kerdil dan manusia berjiwa besar saat ini. ‘Manusia kerdil dan manusia berjiwa besar’ dikutip dari tulisan opini Kompas Bismoko Mahamboro pada 13 Februari 2024.
Manusia Kerdil dan Manusia Jiwa Besar
Bismoko Mahamboro menjelaskan bahwa manusia kerdil dialamatkan kepada mereka yang masuk dalam sistem demokrasi, tetapi mereka tidak paham tentang demokrasi. Demokrasi sendiri memiliki arti sebagai “rebublik”, yakni kepentingan umum. Hanya saja orang yang bergabung di dalamnya belum terlalu paham tentang konsep itu dan akhirnya mereka dianggap sebagai tikus berdasi dan babi yang berpesta di negeri ini.
Dengan pengandaian sebagai tikus berdasi atau babi yang berpesta atau sebagai celeng; mereka semakin dikerdilkan dalam identitas sebagai manusia, tetapi mereka gemuk dalam keserakahan dan kejahatan struktural. Mereka adalah manusia kerdil karena mereka sendiri yang menciptakan identitas itu melalui kepintaran dalam kebodohan (pintar untuk mencari cela kejahatan). Mereka kerdil dalam pengetahuan, kerdil dalam moralitas manusia (ciri khas manusia), tetapi kaya dalam moralitas tikus dan babi (tidak bermartabat sebagai manusia).
Sebagai manusia bermoralitas tikus dan babi, mereka menjadi pemimpin yang pembangkang atau alergi terhadap kritik dari rakyatnya. Mereka tidak mau menyentuh realitas yang sedang dialami oleh rakyat (rakyat yang miskin, tesisi, terabaikan, dan tersegel dalam suara). Lebih mirisnya lagi rakyat dilihat sebagai (seakan-akan) musuh negara.
Lawan dari manusia kerdil adalah manusia yang memiliki jiwa besar, manusia yang memiliki keutamaan, dan manusia yang memiliki kemuliaan. Hanya saja manusia seperti ini sedang diserang habis-habisan oleh manusia tikus dan manusia babi di negeri ini. Kemuliaan, keutamaan, dan jiwa besar mereka sedang disaksa habis-habisan oleh para penguasa atau mereka yang memiliki power. Seakan-akan kemuliaan, keutamaan, dan jiwa besar mereka menjadi hukuman yang terpaksa mereka terima. Namun, tidaklah demikian. Mereka adalah harapan terakhir seluruh rakyat Indonesia dalam mengadukan suara mereka kepada penguasa di negeri ini, sehingga hak untuk hidup dari rakyat bisa terjamin.
Sebagai catatan terkahir, mestinya para tikus berdasi dan babi-babi yang berpesta di negeri ini segera sadar bahwa habitat tikus dan babi bukanlah habitat mereka. Mereka dirindukan oleh rakyatnya untuk menjadi manusia mulia, manusia yang memiliki keutamaan, dan manusia yang berjiwa besar. Rakyat tidak pernah memilih pemimpinnya untuk menjadi tikus dan babi, tetapi mereka memili untuk menjadi manusia yang memiliki hati yang mau melayani rakyat.
Dengan demikian, tidak ada rakyat yang diperalat atau yang dilihat sebagai mesin kerja kaum kapitalis, tidak tanah adat yang direbut begitu saja, tidak suara yang dibungkam melalui aparat, dan tidak ada rakyat yang dianggap sebagai musuh negara. Melainkan, adanya rakyat yang damai dan sejahtera serta terjamin di dalam memperoleh hak untuk hidup. Harapannya adalah semoga tidak ada lagi manusia yang ditikuskan dan dibabikan, melainkan sebagai manusia yang memiliki nilai sebagai manusia.***

Tinggalkan Balasan